leukimia akut

with my sister

LEUKEMIA AKUT

Leukemia adalah sekumpulan penyakit yang ditandai oleh adanya proliferasi sel leukosit yang abnormal, ganas, sering disertai bentuk leukosit yang tidak normal, jumlah berlebihan, dapat menyebabkan anemia, trombositopenia, penyakit neoplastik yang beragam, atau transformasi maligna dari sel-sel pembentuk darah di sumsum tulang dan jaringan limfoid dan diakhiri dengan kematian.(Kapita Selekta Kedoteran,2007). Leukemia adalah neoplasma ganas sel asal hemtopoietik, timbul di sumsum tulang, yang menyebar ke darah sirkulasi atau organ lain. Diklasifikasikan berdasarkan tipe sel yang terlibat (myeloid versus limfoid) dan tingkat maturitas sel leukemia (Carbone, P.T., 2003). Sel abnormal ini keluar dari sumsum dan dapat ditemukan di dalam darah perifer atau darah tepi. Sel leukemia mempengaruhi hematopoiesis atau proses pembentukan sel darah normal dan imunitas tubuh penderita (Hoffbrand, 2005). Leukemia berarti “darah putih”, karena pada penderita ditemukan banyak sel darah putih sebelum diterapi. (http://id.wikipedia.org/wiki/Leukemia).

KLASIFIKASI

Menurut perjalanan penyakitnya, dapat dibagi atas leukemia akut dan kronik. Degan kemajuan pengobatan akhir-akhir ini, pasien leukemia limfoblastik akut dapat hidup lebih lama dari pada pasien leukemia granulositik kronik. Dengan demikian pembagian akut dan kronik tidak lagi mencerminkan lamanya harapan hidup. Namun pembagian ini masih menggambarkan kecepatan timbulnya gejala dan komplikasi (Kapita Selekta Kedokteran,2007).

Leukemia dapat diklasifikasikan atas dasar:

  1. Perjalanan alamiah penyakit: akut dan kronik.
  2. Tipe sel predominan yang terlibat: limfoid dan mieloid
  3. Jumlah leukosit dalam darah
  4. Prevalensi empat tipe utama

Dengan mengkombinasikan dua klasifikasi pertama, maka leukemia dapat dibagi menjadi:

  1. Leukemia Limfositik Akut (LLA) merupakan tipe leukemia paling sering terjadi pada anak-anak. Penyakit ini juga terdapat pada dewasa yang terutama telah berumur 65 tahun atau lebih.
  2. Leukemia Mielositik Akut (LMA) lebih sering terjadi pada dewasa dari pada anak-anak. Tipe ini dahulunya disebut leukemia nonlimfositik akut.
  3. Leukemia Limfositik Kronik (LLK) sering diderita oleh orang dewasa yang berumur lebih dari 55 tahun. Kadang-kadang juga diderita oleh dewasa muda, dan hampir tidak ada pada anak-anak.
  4. Leukemia Mielositik Kronis (LMK) sering terjadi pada orang dewasa. Dapat juga terjadi pada anak-anak, namun sangat sedikit.

LEUKIMA LYMPHOBLASTIK AKUT

DEFINISI:

Leukemia lymphoblastik akut adalah pertumbuhan sel kanker dengan cepat, dimana tubuh menghasilkan sel darah putih yang lebih banyak (Lymposit). Sel-sel ini biasanya ditemukan pada sel darah, sumsum tulang, lympha, dan bagian organ lainnya (Anonim, 2007).

KLASIFIKASI ALL MENURUT FRENCH-AMERICAN-BRITISH

  1. L1-sel kecil dengan kromatin yang sama, berbentuk inti sel regular, kecil atau ketidak nampakan nucleolus, sedikitnya sitoplasma, terjadi pada 25-30 % orang dewasa.
  2. L2- sel besar dan pada sel yang heterogen, kromatin yang heterogen, bentuk inti sel yang berbeda, dengan nucleolus yang besar, terjadi pada 70 % kasus ( paling banyak terjadi).
  3. L3- besar dan homogen dengan bermacam-macam nucleoli, dengan sitoplasma sedang, dan vokulasi sitoplasma, terjadi pada 1-2 % kasus.

PATOFISIOLOGI

Sel malignan pada ALL merupakan precursor sel limfoid yang nampak pada tahap perkembangan awal. Hal tersebut disebabkana oleh ketidaknormalan ekspresi gen, merupakan hasil translokasi kromosomal. Penggantian sumsum limfoblas, menyebabkan penurunan produksi sel darah. Akibatnya terjadi anemia, trombositopenia, neutropenia. Limfoblas juga mengalami proliferasi pada organ lain selain sumsum, yaitu hati, limfa, dan nodus limfa ( Seiter, 2006).

PENYEBAB

ALL bisa disebabkan karena hal-hal sebagai berikut ( Seiter, 2006):

  1. Kebanyakan leukemia terjadi karena adanya paparan radiasi
  2. Adanya penyakit hematologi, seperti syndrome myelodisplastic
  3. Karena ketidak normalan kumpulan kromosom 11q23.

MORTALITAS DAN MORBIDITAS

Hanya 20-40 % dari orang dewasa dengan ALL yang dapat sembuh dengan regimen terapi yang diberikan . ALL banyak terjadi pada pria dibanding wanita dan lebih banyak pada usia anak-anak daripada dewasa. ( Seiter, 2006).

GEJALA

Umumnya pasien akan mengalami:

  1. gusi berdarah.
  2. nyeri tulang.
  3. fatigue.
  4. panas.
  5. infeksi.
  6. menstruasi yang tidak teratur.
  7. palpitasi.
  8. lymphadenophaty.                                                      (Anonim,2007).

PEMERIKSAAN LAB

  1. Jumlah CBC dapat menunjukkan adanya perbedaan antara anemia dengan trombositopenia, biasanya pada pasien ALL jumlah WBC bisa normal, tinggi atau rendah. Menunjukkan adanya neutropenia.
  2. Review dari jumlah CBC menunjukkan keadaan darah perifer, berupa :
  1. Sirkulasi blast
  2. Adnya sitokin yang nampak
  3. Semua pasien ALL akan mengalami peningkatan kadar asam laktat, asam urea
  4. Penilaian fungsi hati dengan evaluasi BUN dan kreatinin sangat penting untuk penyesuaian regimen terapi.
  1. Untuk melihat profil kimia, dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut:
  1. Kultur darah perlu dilakukan untuk pasien yang mengalami peningkatan suhu tubuh akibat infeksi.

KOMPLIKASI

  1. DIC (disseminasi intravascular coagulasi).
  2. Kekambuhan ALL.
  3. Infeksi berat                                                                (Anonim,2007).

PENGOBATAN:

  1. Kemoterapi dengan Daunorubicin (Cerubidine) atau Doxorubicin (Adriamycin) dan Cytarabine (Ara-C): Regimen DA.
    1. Cara pemberian:
  • Daunorubicin: IV, selama 3 hari
  • Doxorubicin: IV, selama 3 hari
  • Cytarabine: IV, selama 7 hari.
    1. Efek samping:
  • Daunorubicin: myelosupresi, kardiotoksik, efek gastrointestinal.
  • Doxorubicin: kardiotoksisitas
  • Cytarabine: nausea, vomiting diare, pendarahan, panas.
  1. Kemoterapi dengan Daunorubicin (Cerubidine®) atau doxorubicin (Adriamycin®), cytarabine (ara-C; Cytosar-U®), dan 6-thioguanine (Tabloid®); Regimen “DAT”
  2. Kemoterapi dengan cytarabine (ara-C; Cytosar-U®) dan  idarubicin (Idamycin®)
  3. Kemoterapi with mitoxantrone (Novantrone®) dan etoposide (VePesid®)
  4. Kemoterapi dengan amsacrine (AMSA), cytarabine (ara-C; Cytosar-U®), dan 6-thioguanine (Tabloid®).
  1. Kemoterapi dengan  semua-trans retinoic acid (ATRA)
    1. Cara pemberian: Oral.
    2. efek samping: hyperleukosite, syndrome respiratory distrea, panas, penambahan berat badan, edema.

TERAPI LAINNYA

  1. Terapi Induksi

Digunakan regimen 4 obat yaitu Vincristine, Prednisone, Antracycline, dan Cyclophosphamide atau L-asparaginase. Regimen 5 obat, yaitu Vincristine, Prednisone, Antracycline, Cyclophosphamide dan L- asparaginase, digunakan selama 4-6 minggu.

  1. Terapi tambahan

Dapat digunakan Daunorubicine dan Cytosine arabinosida

Digunakan Dexamethasone, Vincristine dan Doxorubicine, diikuti dengan Cyclophosphamide, Ara-C, dan 6-thioguanine, dimulai dari minggu ke 20. Dapat digunakan maintenance terapi dengan 6-mercaptopurine dan methotrexate selama minggu ke10-20 dan minggu ke 28-130. Rata-rata digunakan selama 20 bulan.

  1. Terapi perawatan

Daunorobicin atau mithotxantrone, Vincristine, Prednisone, dan Methotrexate.

  1. Profilaksis CNS

Cyclophosphamide, vincristine, doxorubicine dan dexamethasone.

Terapi untuk pembesaran sel B pada ALL

Cyclophosphamide dan methotrexate atau ifosfamide

AKIBAT KLINIS YANG DITIMBULKAN

  1. Perpanjangan waktu prothrombin, terapinya bisa menggunakan plasma yang didinginkan dan cryoprecipitate yang diberikan jika level fibrinogen kurang dari 100 g/dL.
  2. Panas akibat adanya infeksi, bisa diberikan antibiotic sebagai profilaksisnya, yaitu ciprofloxacin 500 mg po 2 dd, fluconazole 200 mg po 1dd, itraconazole 200 mg po 2dd, acyclovir 200 mg po 5 dd, dan valtrex 500 mg po 1dd.
  3. Pada pasien pediatric dengan refraktori atau kekambuhan ALL, bisa menggunakan clovarabin, mekanisme kerjanya adalah dengan jalan menghambat sintesis DNA baik DNA polymerase I dan RNA reduktase.

LEUKIMIA MYELOGENOUS AKUT

DEFINISI

Leukemia myelogenous akut adalah kanker darah dan sumsum tulang belakang, dimana jaringan spons pada tulang yang memproduksi sel darah. Acute berarti prosesnya yang tiba-tiba dan cepat pada sistem imun sel darah. Myelogeneus leukemia karena serangannya menyerang pada sel darah putih, yang mana sel darah putih disebut myeloid sel (Anonim,2007).

FAKTOR RESIKO

Faktor yang dapat meningkatkan factor resiko AML yaitu (Anonim,2007):

  1. Meningkatnya usia: AML lebih sering pada usia 60 tahun dan usia lanjut.
  2. Jenis kelamin: laki-laki lebih sering terkena daripada wanita.
  3. Terpai kanker sebelumnya: orang yang mendapatkan tipe kemoterapi dan terapi radiasi, untuk anak-anak yang terkela ALL dapat meningkatkan resiko terjadinya AML.
  4. Paparan radiasi: orang yang terkena paparan radiasi pada level tinggi (sering).
  5. Paparan zat kimia yang berbahaya, seperti benze yang ditemukan pada bensin yang digunakan pada industry kimia dapat meningkatkan AML.
  6. Merokok: AML berhubungan dengan asap rokok dimana asap rokok terdiri dari benze dan kita tahu bahwa kanker disebabkan olah zat-zat kimia.
  7. Penyakit darah yang lain: orang yang memiliki penyakit darah seperti myelodysplasia, polycythemiavera atau thrombocytemia dapat meningkatkan resiko terjadinya AML.
  8. Penyakit genetik: seperti down syndrome berhubungan dengan peningkatan terjadinya AML.

PATOFISIOLOGI

Perkembangan sumsum tulang belakang terhambat pada tahap awal. Mekanisme penahanannya masih dalam studi penelitian, tetapi banyak kasus menunjukkan aktivitas gen yang abnormal dari transkolasi kromosom dan beberapa gen abnormal. Hasil penghabatan sumsum tulang belakang menyebakan dua penyakit yaitu, produksi sel darah normal berkurang yang menhasilakn penyakit anemia, trombositopenia dan neuropenia. Proses poliferasi pada sel darah cepat diikuti dengan penurunan kemampuan untuk membunuh sel mati atau apoptosis, hasilnya akan terakumulasi pada sumsum tulang belakang, darah, limfa dan hati (Seiter, 2006).

MORTALITAS DAN MORBIDITAS

Pada tahu 2005 rata-rata 9.000 terjadi kemtian di Amerika, terdiri dari 5.040 pada laki-laki dan 3.960 pada wanita. Jenis kelamin yang lebih sering mengalami AML adalah laki-laki. Hal ini terjadi karena, syndrome myelodysplastic yang sring terjadi pada laki-laki, tetapi berbeda jika pada pasien usia lanjut. Rata-rata usia yang mengalami AML adalah umur 65 tahun (seiter, 2006).

PENYEBAB

Kebayakan factor yang menyebakan AML adalah (Seiter,2006):

  1. Pasien dengan de novo AML yang tidak teridentifikasi factor resikonya.
  2. Pasien hematologi
    1. Factor resiko yang terdapat pada AHD (Anteceden hematologic disorders) yang sering terjadi pada MDS (Myelodysplastic symdrom). MDS adalah penyakit pada sumsum tulang belakng yang etiologinya tidak diketahui, yang sering terjadi pada pasien usia lanjut.
    2. Pasien dengan resiko MDS rendah seperti refaktori anemia dengan penemuan cytogenetic normal, biasanya tidak menimbulkan AML. Pasien dengan resiko MDS tinggi seperti refaktori anemia dengan pemecehan tipe dua yang berlebihan sehingga dapat menyebabkan AML.
    3. Selain AHD, anemia ablastic, myelofibrosis, paroxysmal nocnurnal hemoglobinuria dan polycythemia vera dapat mempengaruhi pasien AML.
    4. Beberapa penyakit congenital
      1. Penyakit congenital dapat mempengaruhi pasien seperti bloom syndrome, down syndrome, congenital neutropenia, fanconi anemia dan neurofibromastosis.
      2. Umumnya AML, jarang terjadi pada anak-anak tetapi pada usia muda dan dewasa.
      3. Penyakit genetic lainnya seperti polymorphisme enzim metabolit dapat mempengaruhi AML.
  1. Familial syndrome
    1. Pada penyakit platelet terjadi mutasi gen AML1 (RUNX1, CBFA2) cenderung terjadi pada AML, penyakit atosomal yang banyak menyebakan AML adalah trombositopenia berat, kerusakn fungsi platelet.
    2. Mutasi pada CEBPA ( gen mengkode CCAT atau meningkatkan ikatan protein, alfa, factor yang membedakan granulosit dan kelompok keluarga bZIP) yang menggambarkan keluarga dengan 3 kelompok yang menyebabkan terjadinya AML.
    3. Paparan dari lingkungan:
      1. Beberapa studi menunukkan adanya hubungan paparan radiasi dengan leukemia. Radiasi cepat dapat menyebabkan leukemia.
      2. Pasein yang menerima terapi tanpa radiasi untuk Ankylosing Spondylitis dapat meningkatkan resiko terjadinya leukemia.
      3. Orang-orang yang selamat dari ledakan bom atom dijepang dapat meningkatkan terjadinya AML.
      4. Orang yang menghirup asap rokok yang sedikit dapat meningkatkan resiko AML.
      5. Paparan benzene berhubungan dengan aplastic anemia dan pancytopenia, pasien ini dapat meningkatkan terjadinya AML.
      6. Paparan pada kulit akibat kemoterapi:
        1. Beberapa pasien dengan kanker kulit dan aktif melakukan kemoterapi (transplantasi sumsum tulang belakang) akan meningkatkan AML.
        2. Pasien dengan paparan agen kemoterapi seperti alkalin dan inhibitor topoisomerasi II.
        3. Pasien dengan paparan agen alkalin dengan atau tanpa radiasi sering terjadi pada fase Mylodysplastic dapat menyebabkan AML.
        4. Pasien dengan paparan inhibitor topoisomerasi II yang tidak terdapat pada fase Mylodysplastic. Tes Cytogenetic menyatakan translokasi yang membutuhkan ikatan kromosom11q23.
        5. Paparan alkalin dapat menyebakan AML setelah 3-5 tahun dan paparan inhibitor topoisomerase II setelah 9-12 bulan.

PEMERIKSAAN LAB

1        Jumlah CBC dapat menunjukkan adanya perbedaan antara anemia dengan trombositopenia, biasanya pada pasien ALL jumlah WBC bisa normal, tinggi atau rendah.

  1. Darah perifer, Review dari jumlah CBC menunjukkan keadaan darah perifer, berupa :
  1. Sirkulasi blast
  2. Adnya sitokin yang nampak
  1. Untuk melihat profil kimia, dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut:
    1. Semua pasien ALL akan mengalami peningkatan kadar asam laktat, asam urea
    2. Penilaian fungsi hati dengan evaluasi BUN dan kreatinin sangat penting untuk penyesuaian regimen terapi.
  1. Pemerikasan HLA atau DNA pada pasien yang menjalani transplantasi, karena berpotensi mengalami infeksi candida.

GEJALA:

  1. Panas.
  2. Berat badan turun.
  3. Nyeri tulang.
  4. letargi dan fatigue.
  5. bleeding
  6. Pendarahan gusi.                                                                     (Anonim, 2007).

PENGOBATAN:

  1. Kemoterapi dengan prednisone, vincristine sulfate (Oncovin®), dan anthracycline (daunorubicin)
    1. Cara pemberian: Prednisone secara oral 3 x sehari, dan Vincristine secara intravena (IV).
    2. Durasi: Prednisone dan vincristine diberikan dengan interval  4 minggu.
    3. Efek samping: Vincristine (Rambut rontok, CNS)
    4. Kemoterapi dengan prednisone. vincristine (Oncovin ®), and L-asparaginase (Elspar®) or cyclophosphamide (Neosar®)
      1. Cara pemberian:
  • Prednisone: oral
  • Vincristine: Intravena (IV)
  • L-asparaginase: IV or intramuskular; subkutan, injeksi dibawah kulit.
  • Cyclophosphamide: IV or oral
  1. Durasi: Prednisone dan vincristine diberikan dengan interval waktu 4 minggu; L-asparaginase bervariasi. Cyclophosphamide diberikan 2 sampai 5 hari.
  2. Efek samping:
  • Prednisone: efek pada system imun.
  • Vincristine: rambut rontok, CNS
  • L-asparaginase: anapilaksis, inflamasi pancreas.
  • Cyclophosphamide: infertilitas, inflamasi kandung kemih berat, kardiotoksisitas (kerusakan jantung),suppression system imun, rambut rontok.
  1. Terapi kombinasi untuk ALL (dewasa: 1-3 bulan; anak-anak 4-8 bulan) kombinas kemoterapi dengan antimetabolit yaitumethotrexate and 6-mercaptopurine (6-MP):
    1. Kemoterapi dengan prednisone, vincristine (Oncovin®), L-asparaginase (Elspar®) dan daunorubicin, diikuti dengan Cyclophosphamide (Neosar®), cytarabine (ara-C; Cytosar-U®), and 6-thioguanine (Tabloid®)
    2. Kemotherapy dengan methotrexate sodium dan 6-mercaptopurine (6-MP; Purinethol®)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: